Benarkah Orang Cenderung Emosian Saat Ditegur

 Banyak kasus terjadi ditengah tengah kita jika orang melakukan kesalahan dan ditegur oleh orang lain, kebanyakan mereka bukan menerima akan keslahannya, Justru malah menunjukkan emosinya bahkan arogansinya dan menunjukkan bahwa dirinya yang benar. Hal semacam ini bisa terjadi dimana saja baik ditempat umum, di jalan raya, tempat antrean seperti SPBU bahkan di tempat ibadah juga pernah terjadi hal semacam ini.

Walaupun demikian faktor lokasi dan tempat sedikit banyak juga bisa mempengaruhinya. Contoh yang sering terjadi kasus semacam ini adalah di jalan raya. Kenapa sering terjadi di jalan raya ?, setidaknya faktor cuaca yang panas, rasa capaek, atau lapar, macet bahkan kemungkinan suara yang bising bisa saja mempengaruhi kesalahfahaman berkomunikasi antar pemakai jalan.

 

Benarkah Orang Cenderung Emosian Saat Ditegur

Penjelasan psikolog Psikolog Rose Mini Agoes Salim seperti yang dirilis oleh Kompas.com memberikan pencerahan terhadap fenomena yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Menurutnya, ada beberapa poin yang membuat orang melakukan kesalahan justru menjadi naik pitam, ketika ada pihak lain yang menegur kesalahannya. Alasan utama adalah rasa tidak nyaman, diingatkan di depan orang banyak. "Pertama, orang kalau ditegur di depan orang lain, raanya pasti lebih tidak nyaman, malu ya," kata Rose . Alasan yang kedua adalah perasaan tidak terima, terlebih jika teguran disampaikan dengan cara yang kurang tepat.

"Kalau kita ditegur orang yang tidak kita kenal, ego kita jadi lebih tinggi keluarnya. Terus merasa 'siapa elu kok ngingetin gue?" bisa seperti itu. Akibatnya, dia merasa terusik,' tutur dosen Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

 

Peran dari semua pihak diperlukan untuk menghindari situasi semacam itu, termasuk pihak yang akan memberikan teguran. Rose menyebut, apabila teguran dilakukan dengan cara yang baik, pemilihan nada bicara juga diksi kalimat yang baik, maka respons negatif berupa emosi tak terkendali semacam itu dapat dihindarkan. "Hal ini sebetulnya bisa dilakukan kalau kita.. tapi kadang-kadang orang yang menegur kan 'Gimana sih lo, antri dong!" itu yang membuat orang naik darah," ia mencontohkan. "Tapi kalau 'Mohon maaf ya Pak, ini saya sudah duluan. Kalau enggak salah, antri itu harus dari belakang sana Pak, tidak bisa langsung potong dari sini. Terima kasih', kalau informasinya seperti itu, dengan nada datar, mungkin penyampaian kita juga bisa membantu untuk tidak membuat orang itu marah," lanjut dia. 

 

Pakar psikologi di bidang moral juga pendidikan ini juga mengingatkan, ketika kita hendak menegur orang lain yang melakukan kesalahan, tidak perlu kita sampaikan dengan cara berteriak-teriak. Hal yang perlu diingat, melakukan teguran di muka umum saja sudah membuat seseorang merasa tidak nyaman, bagaimana pula jika teguran itu dilakukan dengan nada tinggi di hadapan banyak orang. "Enggak perlu teriak-teriak di depan orang segitu banyaknya, jadi masih menghargai dia sebagai manusia," ujar Rose. 

Bagaimana kalau menagih utang? Hal yang sama juga berlaku pada konteks penagih utang dan orang yang ditagih. Rose tidak membenarkan orang yang menunggak membayar utang, atau berkelit dan banyak alasan ketika dimintai membayar kewajibannya.
 

Namun, kembali lagi, bagaimana dengan cara yang ditempuh pihak penagih utang untuk mendapatkan haknya? "Kalau orang yang utang yang ditagih, mungkin cara menagihnya yang membuat orang itu enggak nyaman. Dibentak dan sebagainya. Memang yang salah yang tidak membayar utang, tapi kalau dibentak ya mungkin jadi jatuhnya tidak nyaman. Akhirnya bukannya dia membayar, tetapi malah dia lebih marah lagi," jelas dia. 

Terakhir, dia menyebut adanya dorongan seseorang untuk mempertahankan harga dirinya di depan orang lain. Ada kalanya, seseorang merasa terinjak dan perlu memberikan respons tertentu agar harga dirinya tetap terjaga. Dalam kondisi tersebut, terkadang orang kehilangan daya kendali atas apa yang ia ucapkan. "Jadi pride orang, harga diri orang itu kadang-kadang membuat orang mengeluarkan kata-kata yang nanti setelah itu mungkin dia bisa merasa 'aduh nyesel juga ngomong gitu'. Tapi pada saat itu, rasa harga diri kalau terusik jadi kayak gitu, apalagi kalau masalahnya di depan umum," pungkas Rose.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url