-->

Selamat Datang di Guru Ngeblog

My Photo

.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan ” Muttafaqun 'Alaih

About Me

Perkenalkan, saya Muhammad Subkhan, pendidik yang juga menekuni tulis menulis di dunia blogging, berumur hampir 50 tahun, tidak seperti blogger pada umumnya yang didominasi anak muda.

Mencintai blogging berawal dari keinginan membuat materi belajar online melalui blog kepada siswa saya di tahun 2015. Sempat mengelola beberapa blog namun akibat penurunan pengunjung saat ini memutuskan untuk hanya mengupdate artikel di dua blog saja termasuk blog ini.

Kesibukan mengajar dan tuntutan artikel lebih original dan berkualitas butuh waktu lebih lama menjadi bagian alasannya. Sejak badai algoritma Google diawal 2020 dan ketatnya persaingan akibat kata kunci blog personal banyak yang sudah direbut oleh situs besar, saat ini menjadi hikmah bagi saya bahwa ngeblog lebih kepada menyalurkan hobi menulis semata.

.

--------------------ooOoo----------------------

.

Pengalaman Mengajar Daring Di Saat Pandemi Covid-19, Masalah dan Solusinya

Pengalaman Mengajar Daring Di Saat Pandemi Covid-19, Masalah dan Solusinya

Hiruk pikuk celoteh sebagian masyarakat bahwa guru makan gaji buta disaat pandemi Covid 19 sesungguhnya tidak memahami apa itu pembelajaran daring. Walaupun tidak hadir secara fisik didepan siswa, guru tetap hadir secara virtual dan terus melaksanakan tugasnya meskipun katerbatasan pembelajaran online memang bisa mengurangi kualitas hasilnya. Tantangan yang dihadapi guru mulai dari kemampuannya memahami aplikasi IT (aplikasi penyampai pembelajaran kepada siswa), mentransformasikan materi pembelajaran biasa menjadi pembelajaran online, jaringan dan pulsa internet baik oleh guru dan siswa, dan lain lain tentu bisa menghambat proses pembelajaran daring. Namun demikian walau bagaimanapun juga harus tetap dilaksanakan karena seperti yang disampaikan oleh Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sendiri bahwa pembelajaran online sebenarnya tidak diinginkan oleh Kemendikbud, hal ini terjadi karena menjawab tantangan ganasnya penularan covid 19 yang mau tidak mau pembelajaran online harus dilaksanakan.

Pengalaman Mengajar Daring Di Saat Pandemi Covid-19, Masalah dan Solusinya

Sama seperti pembelajaran biasa pembelajaran online butuh kerjasama guru dan siswa agar bisa maksimal. Bentuk kerjasama tidak hanya terbatas pada aktifitas pembelajaran saja namun lebih dari itu, minat siswa, motivasi dan dorongan orang tua dan kembali lagi ke jaringan dan pulsa yang masih tidak bisa dijangkau oleh seluruh siswa. Akibatnya banyak siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran online dan kelasnya ditinggal begitu saja tidak ada merasa bahwa dia membutuhkan itu untuk masa depannya.

Nah, terlepas dari mahalnya pulsa, jangkauan jaringan, tidak memiliki peralatan smartphone dan apapun itu tantangannya guru sebagai penyampai pesan harus terus eksis sehingga siswa yang masih mau mengikuti pembelajaran online tidak terabaikan begitu saja. Dalam artikel kali ini saya sebagai pendidik akan berbagi fakta pembelajaran online yang saya lakukan yang menjadi pengalaman pembelajaran selama pandemi covid-19 ini baik hambatannya, solusi yang saya lakukan sendiri maupun kelebihan pembelajaran online yang ternyata belakangan  juga sudah disadari oleh beberapa guru.

1. Guru Tidak bisa mengejar target kurikulum


 Dalam pembelajaran setiap guru punya silabus dan RPP yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Dengan kondisi darurat saat ini pembelajaran tidak bisa lebih leluasa dan guru dibatasi dengan banyak hal untuk mengejar kurikulum. Nah, menjawab permasalahan ini untungnya Permendikbud No. 719/P/2020 tentang kurikulum kondisi khusus salah satunya memberikan keleluasaan kepada guru yang tidak lagi dibebani target kurikulum.

2. Pembelajaran tidak diikuti semua siswa


Fakta ini tidak terjadi di kelas saya saja. Beberapa guru yang lain juga mengalami hal yang sama. Permasalahan tentu melibatkan banyak hal dan guru tidak bisa memaksakan siswa untuk itu . Apalagi memberikan hukuman jika tidak mengikuti pembelajaran. Untuk hal seperti ini saya hanya tetap memberikan semangat kepada siswa melalui online walaupun guru sudah tau kalau siswa juga tidak pernah mengikuti pembelajarannya.

3. Tidak semua materi pembelajaran bisa diajarkan secara online.


Tentang permasalahan ini juga sudah diatasi dengan lahirnya Permendikbud No. 719/P/2020, dimana terdapat penyederhanaan standar isi, sehingga hanya materi yang bisa diajarkan secara online saja yang diajarkan.

4. Aktifitas pembelajaran lebih dominan 1 arah


Karena ketiadaan tatap muka, maka untuk membuat proses pembelajaran aktif tidak bisa dilakukan seperti dikelas offline. Sehingga untuk membuat pembelajarn lebih difahami siswa, guru kembali menggunakan metode ceramah yang mengakibatkan komunikasi hanya satu arah. Guru menyampai materi siswa mendengarkan dan diakhiri dengan pemberian tugas.

5. Cenderung menjadi ajang pemberian tugas siswa


Tidak bisa dielakkan lagi untuk membuat siswa aktif dan memahami apa yang sudah dipelajari, pemberian tugas setiap kompetenssi dasar diberikan oleh guru. Namun untuk meminimalisir pemberian tugas yang berlebihan, guru bisa memilah mana kompetensi dasar yang perlu pemberian tugas dan mana yang tidak perlu.

6. Tidak bisa membimbing dan mendisiplinkan siswa sepenuhnya


Hal seperti ini sebenarnya paling essensial dalam belajar. Membimbing dan mengarahkan siswa adalah hal yang harus dilakukan disaat siswa mengalami kesulitan, mengantuk, mengganggu kawan, tidak konsentrasi dan lain lain. Nah, dalam pembelajaran online, guru tidak bisa menjangkau hal yang seperti ini. Oleh karena itu jalan keluarnya adalah orang tua harus pro aktif ikut membimbing kegiatan pembelajaran online.

7. Susahnya memberi penilaian hasil belajar


Akibat tidak semua siswa mengikuti pembelajaran online, demi keadilan guru juga tidak bisa menilai hasil pembelajarannya secara kuantitas apalagi kualitas. Guru cukup dengan menghitung berapa jumlah tugas yang dikerjakan. Dari penilaian ini sebenarnya tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya karena siswa yang aktif online dikarenakan mempunyai fasilitas dan daya dukung untuk itu. Bisa jadi siswa yang mampu / pintar tidak punya fasilitas pembelajaran online sehingga berakibat pada nilainya yang merosot. Untuk penilaian yang lebih objektif mungkin bisa dilakukan dengan membandingannya dengan penilaian pada tingkat sebelumnya disaat pembelajaran konvensional dilakukan.

8. Guru tidak mengenal siswa lebih dalam


Ada ikiatan batahin antara guru dengan siswa dalam pembelajaran dikelas namun tidak terjadi pada pembelajaran online. Akibatnya baik guru maupun siswa tidak bisa mengenal lebih dekat. Bahkan siswa ditingkat pertama juga masih tidak saling mengenal. Walaupun menurut saya bukan hal penting dalam pembelajaran, namun untuk mengatasinya sebisa mungkin aktifitas pembelajaran dengan diskusi online bisa ditingkatkan, dan jika mungkin siswa menyetujui untuk penggunaan video (zoom. whatsapp web dll) untuk mengetahui wajah masing masing.

9. Home visit yang memberatkan guru


Kunjungan kerumah oleh guru adalah konsekwensi disaat pembelajaran online tidak menjangkau siswa dengan berbagai alasannya. Jika guru mengampu 10 kelas dan setiap kelas jumlahnya 32 jika ada 50% siswa yang tidak terjangkau pembelajaran online berarti 320 x50% = 160 siswa yang harus dikunjungi. Kelompok belajar mungkin bisa menjadi solusinya dengan mengumpulkan siswa yang rumahnya saling berdekatan  disatu tempat pada hari dan jam tertentu. Namun cara ini juga tidak berlaku bagi siswa yang rumahnya saling berjauhan. Beban seperti ini akan semakin menguras waktu, tenaga bagi guru apalagi guru yang berdomisili jauh dari sekolah denga hasil yang menurut saya kurang maksimal.

10. Dukungan orang tua masih kurang


Disaat masa pandemi dan siswa belajar secara online banyak orang tua yang menyadari bahwa tugas mendidik anak itu tidak ringan. Sehingga semakin lama anak belajar dari rumah semakin membutuhkan bimbingan belajar oleh orang tua. Beban yang biasa dipikul oleh guru dan saat ini menjadi tanggungjawab orang tua inilah membuat orang tua semakin lama semakin  berkurang dalam mengawasi pembelajarannya apalagi beban orang tua juga mencari nafkah dan aktifitas lainnya. Komunikasi orang tua dengan guru bisa menjadi jalan keluar untuk memantau perkembangan belajar anaknya.

Dari sekian banyak permasalahan yag dihadapi dalam pembelajaran online, sebenarnya ada beberapa hal kelebihan atau manfaat dari pembelajaran daring ini seperti praktis dalam banyak hal seperti guru dan siswa bisa berada dimana saja dan kapan saja melakukan kegiatan pembelajaran, guru dan siswa lebih konsentrasi karena tidak ribut, lebih mengenal IT lebih jauh termasuk aplikasi yang digunakan dalam belajar online bahkan bisa diterapkan untuk home schooling

Dalam menjalankan tugas mengajar online yang saya lakukan adalah cukup dengan menggunakan aplikasi yang familiar dikenal oleh siswa yaitu WhatsApp. Saya memaksimalkan fitur Voice Note untuk mengirimkan suara saya kepada siswa dalam grup. Cara ini menurut saya lebih efektif dan punya beberapa kelebihan karena salah satunya tidak membutuhkan pulsa internet yang besar kepada siswa namun tetap bisa melakukan diskusi dan proses pembelajaran walaupun dengan suara atau tulisan saja.

Semoga dalam pembelajaran online tidak menyurutkan kita dalam berkreasi untuk lebih memaksimalkan aktifitas belajar dan prosesnya ketimbang hanya memberikan beban tugas kepada siswa saja. Akhirnya catatan yang saya buat hanyalah pendapat pribadi dari hasil pembelajaran online yang saya lakukan dan tidak mewakiti pendapat pendidik secara umum. Jika Bapak/Ibu punya pengalaman belajar online lainnya silahkan untuk menuliskannya dikolom komentar.

Advertisement

Artikel Menarik Lainnya :

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar