Mengembangkan Konsep Semua Anak Adalah Pemenang Pada setiap Anak

Mengembangkan Konsep Semua Anak Adalah Pemenang Pada setiap Anak

Bagas lagi lagi mendapat nilai yang kurang baik pada ulangan matematika. Beberapa temannya mendapatkan nilai 9 sedangnkan Bagas hanya mendapatkan nilai 6. Mendapatkan nilai pas pasan yang berulang kali pada mata pelajaran matematika membuat Bagas berkecil hati. Ejekan teman temannya dengan sebutan "bodoh" pun membuat Bagas semakin mengerdilkan kepercayaan diri Bagas.Pada akhirnya Bagas terjebak pada pikiran bahwa ia adalah pribadi bodoh yang tak memiliki kelebihan.


Kisah Bagas memang hanya rekaan tetapi beberapa siswa mungkin pernah berada diposisi Bagas dan merasa hal serupa. Untuk menghindai hal seperti ini beberapa sekolah menerapkan suatu konsep pendidikan yang bertujuan membimbing para pelajar untuk menemukan potensi dan kelebihannya masing masing. Konsep ini dikenal dengan konsep semua anak adalah pemenang.

Setiap sekolah mungkin punya cara berbeda dalam menerapkan konsep semua anak adalah pemenang. Ada sekolah yang memberikan predikan juara pada masing masing siswa dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki, ada pula sekolah yang membantu siswa untuk mengeksplorasi kecerdasan majemuk mereka.

Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Veronica Kristiyanti mengatakan bahwa sekolah yang mengusung semua anak adalah pemenang mungkin melihat bahwa kecerdasan anak tiudak hanya selalu dilihat darisisi akademis saja namun dari kecerdasan majemuk.

Apa itu kecerdasan majemuk ?


Menurut Howard Gardner ada 9 jenis kecerdasan lain diantaranya kecerdasan linguistik, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensial, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan intra personal dan kecerdasan interpersonal.

Semua orang tua mungkin khawatir kalau konsep setiap anak adalah juara dapat memberikan dampak negatif kada anak., misalnya karena merasa tinggi disatu bidang anak menjadi abai dengan kekurangannya dibidang yang lain atau anak menjadi kehilangan semangat bersaing karena sudah merasa menjadi pemenang.

Atas kekhawatiran ini, Veronika mengatakan orang tua dan sekolah dapat mengambil peran untuk menumbuhkan dan memelihara motivasi serta semangat belajar anak, salah satunya adalah dengan membimbuing anak untuk menemukan tujuan hidup yang ingin mereka raih untuk masa depan mereka.

Cara lainnya adalah orang tua dan sekolah memberikan pengertian yang baik pada anak bahwa menjadi unggul di satu bidang bukan berarti boleh mengabaikan bidang kecerdasan lainnya.

Menerapkan Konsep Anak Adalah Pemenang di Tingkat SD


Konsep Anak Adalah Pemenang paling cocok diterapkan pada anak tingkat SD. karena disitu kita masih sedang mengeksplore banyak bakat, minat dan keunggulan dan kekurangannya. Pada tingkat ini anak dipersiapakan untuk memasuki pendidikan yang levelnya lebih tinggi yaitu SMP. Disini anak diajarkan untuk melihat keunggulan dan kelemahannya masing masing serta cara untuk menghadapi keduanya.

Tak hanya itu anak juga akan belajar untuk tidak memandang rendah teman sebayanya karena memiliki kekurangan disatu bidang. Sebaliknya, anak akan dapat melihat dan menghargai kelebihan yang dimiliki orang lain.

Kemampuan untuk mengenali keunggulan diri sejak dini juga dapat membantu anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki konsep diri yang baik. Hal inilah yang akan memunculkan motivasi internal pada anak untuk menjadi lebih baik. Motivasi seperti ini akan lebih bertahan lama dibanding dengan motovasi yang datang dari luar atau lingkungan.

Kuncinya adalah peran orang tua dan sekolah untuk selalu berkomunikasi akan kelebihan dan kekurangan anak mereka. dari situlah sekolah akan mengembangkan potensi anak untuk lebih percaya diri.

Advertisement

Baca juga:

------------- READ NEXT -------------