Alkisah Tempat Pijakan

Alkisah Tempat Pijakan

 Hari ini pak Danu bernasib sial, angkot yang disopirinya terperosok kedalam parit. Untungnya ia membawa seorang kernet. Untuk mengeluarkan ban belakang sebelah kiri dari dalam parit  kernet diminta pak Danu mendorong mobil dari belakang agar ban bisa keluar. Sambil bersiap siap memijak gas, Pak Danu memberi aba aba untuk mendorong mobil secara bersama sama. Satu... Dua.. Tigaaa... Doroooong " teriak Pak Danu. Ditengah deru mesin mobil dengan ban kirinya yang tetap berputar ditempat, terdengar suara. " "Waduuh, aku terpeleset, tempat pijakan yang dekat parit ini terlalu licin". Mendengar suara itu pak Danu sontak menghentikan gasnya dan menolong kernetnya yang jatuh terperosok ke dalam parit juga.Tapi syukurnya tidak ada yang terluka. 


Alkisah Tempat Pijakan




Karena kelelahan, Pak Danu beristirahat sebentar sambil mencari cara lain agar mobil bisa keluar dari parit. Tiba tiba datang  2 orang bertubuh kekar menawarkan diri untuk membantu mendorong mobil. " Mari Pak, boleh saya bantu" kata salah seorang pria bertubuh kekar itu. Pak Danu terkejut seketika sambil keheranan  karena dimasa seperti ini masih ada orang yang dengan suka rela membantu kesulitan orang lain. Namun demikian perasaan curiga itu disimpan dalam dalam yang penting saat ini ban mobil harus bisa keluar. 


"Disini ni kayak gue memijak, ditempat yang kering jangan di tempat situ yang licin, sampai mampus pun mobil nggak mau gerak", sapaan pria kekar itu kepada kernet. Kernet cuma mengangguk saja tanda mengerti walaupun rasa takut tetap ada. Namun anehnya pria misterius itu tidak bergeser sedikitpun memberikan ruang untuk menempati tempat yang kering dan tanah yang keras untuk bisa mendorong..


Akhirnya dengan bantuan kedua pria itu hanya dengan sekali dorongan yang kuat mobil bisa lolos terbebas dari jebakan itu. "Alhamdulillah, kita sudah terbebas, terima kasih kawan atas pertolongannya", ucap Pak Danu sambil mengajak berjabat tangan kepada kedua pria itu. "Ee, nanti dulu, tidak ada yang gratis jaman sekarang". Tiba tiba pria itu memaksa meminta sejumlah uang. Pak Danu terkejut kecurigaannya menjadi kenyataan, kalau kedua pria dihadapannya ini bukan berniat tulus membantu namun berharap imbalan. Tapi apa boleh dikata uang 20 ribu hasil narik pagi ini terpaksa berpindah tangan. 


Walaupun merasa kesal, Pak Danu merelakannya. Ia yakin rejeki Allah yang mengatur. Ia tetap bersyukur karena sudah terbebas dari masalah angkotnya yang terperosok ke dalam parit.


Alkisah tempat pijakan. Ia tidak peduli siapa yang memijak. Orang baik atau orang jahat karena takdirnya untuk selalu dipijak. Namun setiap orang menginginkan memilih pijakan yang lebih kuat agar bisa mendorong lebih kuat. Pijakan yang lemah akan membuat daya dorong yang lemah. Namun sayang tidak semua orang dikaruniai pijakan yang kuat. Bahkan mendapat pijakan kuat cenderung membawa godaan untuk menyombongkan diri dan meremehkan pijakan yang lemah dengan selalu menanyakan " seberapa kuat pijakanmu ?". Nafsu selalu menggoda agar mencari tempat pijakan sekuat kuatnya dan setinggi tingginya bila perlu memijak yang dibawahnya. Na'uzubillah.


Jadilah seperti orang yang memijak bancik (sebutan pijakan kaki di kampungku untuk orang yang telah berwudhu). Menjadi pijakan untuk orang orang suci yang akan menyembah Allah. Kuat, bersih dan disusun seirama dengan langkah kaki menuju rumah Allah. Untuk orang orang yang tawadhu' yang ingin menyerahkan dan merendahkan diri kepadaNya.


Advertisement

Baca juga:

------------- READ NEXT -------------