Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Dan Filosofi Semar

Suka menonton wayang, trus tokoh apa yang paling Anda tunggu tunggu saat pertunjukan berlangsung saya yakin pasti Semar. Ya memang ada salah satu tokoh wayang yang selalu dijadikan sebagai sang penyampai pesan itu, tak lain dan tak bukan adalah Semar. Semar adalah anak dari Sanghyang Tunggal dan dewi Wiranti. Ada 2 saudara Semar yaitu Sanghyang Antaga (Togog) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). Ketiga tiganya lahir dari telur yang bercahaya. Ketika dipuja oleh Sanghyang Tunggal telur itu pecah kulitnya menjadi Togog, putihnya menjadi Semar dan kuningnya menjadi Batara Guru. Saat di kahyangan Semar bernama Sanghyang Ismaya dan mempunyai istri Kanastri. Berputra sepuluh orang. banyak sekali julukan Semar dalam berbagai cerita pewayangan diantaranya Saronsari, Ki lurah Badranaya, Nayantaka, Puntaprasanta, Bojagati, Wong Boga Sampir, Ismaya.


Semar adalah tokoh antara ada dan tiada. Walaupun demikian eksistensinya bertujuan agar menjaga kerukunan manusia di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan atau majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi cerita yang menggambarkan hal seperti itu.

Semar berwatak : sabar, jujur, ramah, suka humor. Setelah turun dari kahyangan ia menjadi abdi (panakawan) yang selalu memberi bimbingan bagi para kesatria. Pada waktu di kahyangan ia seorang yang tampan tapi setelah menjadi semar, dan turun ke arcapada (dunia) badannya menjadi gendut, pendek, dan berwajah lucu karena matanya selalu berair.

Alkisah pada waktu Antaga, Ismaya (Semar), dan Manikmaya mengikuti sayembara menelan gunung. Siapa saja yang berhasil menelan gunung lalu  mengeluarkan melalui duburnya maka akan mampu menjadi raja di 3 dunia yaitu jagad luhur, madya, andhap. Antaga mencoba, tetapi tidak bisa malah mulutnya sobek dan matanya melotot. Sedangkan Ismaya dapat menelan gunung tapi tidak bisa mengeluarkannya sehingga perutnya membesar dan matanya berair akibat kesakitan. Sanghyang Manikmaya berhasil menelan gunung, ia diangkat menjadi raja di Kaendran atau Suralaya, juga menguasai jagad madya dan jagad andhap. Kemudian Ismaya ditugaskan oleh Sanghyan Wenang untuk turun ke bumi menjadi abdi para kestaria keturunan Witaradya termasuk leluhur pandawa.

Semar tinggal di Karang Kedempel, dengan nama semar Badranaya, dan Ia mempunyai 3 orang anak angkat diantaranya  Gareng, Petruk dan Bagong. Semar dijuluki sebagai salah satu punakawan selain Gareng, Petruk dan Bagong. Punakawan artinya tahu sedangkan kawan artinya teman. Sehingga Punakawan artinya : tahu apa yang harus dilakukan ketika mendampingi tuannya (majikannya) dalam keadaan suka dan duka, penuh cobaan dan godaan untuk menuju arah kemuliaan. Punakawan selalu ikut kesatria yang membela kebenaran dan keadilan, serta selalu menjadi penghibur apabila junjungannya sedang sedih. Semar juga dapat menjadi sarana ketentraman dan kemuliaan bagi negara yang ditempatinya. Pandawa menempatkan Semar sebagai penasihatnya. Pandawa tahu bahwa Semar adalah dewa yang turun ke bumi untuk keselamatan dan keadilan. Selain itu punya watak arif bijaksana, tidak suka marah dan suka bercanda.

Tokoh Semar dianggap sebagai tokoh utama sekaligus sebagai penghibur dalam setiap pementasan wayang kulit karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya penyampaian pesan ala Semar tidaklah seserius tokoh wayang yang lain karena pada dasarnya Semar seringkali berbicara sambil bercanda. Nah, disinilah letak menariknya tokoh Semar. Serius, tapi juga santai. Dengan cara seperti ini diharapkan pesan moral lewat tokoh Semar tersampakan dan lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap penikmat pertunjukan wayang kulit.

Posting Komentar untuk "Makna Dan Filosofi Semar"