Skip to main content

follow us


Seperti biasa kujalani hati hariku dengan apa adanya. Bangun jam 6 pagi, mandi , sholat shubuh, sarapan dan tak lupa sesekali melihat update berita terbaru di smartphone butut saya.  Hari ini memang agak siang berangkat kerja karena tadi malam menonton acara talkshow di Televisi sampai selesai dengan pembicara yang saling bersitegang, saling menyalahkan dengan sesekali menggunakan kata kata yang kurang pantas. 

Sambil naik angkot menuju tempat kerja ku buka facebook cuma pingin tahu kebencian macam apa lagi yang muncul di wallku hari ini. Ku urut satu persatu akun yang berteman denganku maupun group yang ku ikuti.  Syukur Alhamdulillah, gambar gambar meme maupun share link status yang berisi kebencian hanya beberapa akun yang muncul. Namun saat aku masuk ke grup yang kusayangi, ternyata sudah menunggu update orang orang yang berisi  saling mencaci tanpa pangkal dan ujungnya. 


Sampai ditempat kerja tidak ada waktu untuk ngobrol sampai waktunya rehat. 15 menit rehat saya sudah disuguhkan dengan perdebatan sengit sesama teman tentang apa yang terjadi tadi malam ditelevisi. Bahkan sampai bel berbunyi tanda mulai kerja lagi, perdebatan itu juga tidak kunjung selesai. Alhasil kami melerainya dan mengingatkan mereka untuk kembali bekerja.

Saat pulang kembali saya menjadi penumpang setia angkot, iseng iseng ku buka whatsapp grup SMA. Aku terkejut ternyata  teman baikku sudah keluar dari grup. Penasaran, ku japri temanku tersebut ternyata alasannya karena sudah gak tahan dengan status grup yang berisi sindiran, saling menyalahkan dan tidak ada rasa saling menyayangi lagi. 

Sampai dirumah ada situasi yang berbeda setelah melangkah masuk pintu biasanya disambut dengan senyuman oleh istri tercinta. Kali ini tidak. Usut punya usut ternyata kesal dengan situasi di tempat pengajian mingguannya yang berisi ceramah yang tampaknya ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Para jamaah kaum ibu ada yang mendukung ceramah tersebut namun banyak juga yang merasa khawatir kalau hal ini membawa akibat pada rusaknya pertemanan di kelompok pengajian tersebut.

Diatas adalah secuil cerita keseharian orang kecil seperti saya dan mungkin juga sama dengan yang Anda alami. Saya pada awalnya tidak ambil pusing biarlah terjadi , kan dialam demokrasi orang bisa berpendapat apa saja menjelakkan bahkan saling mengkafirkanpun boleh boleh saja. Namun belakangan menurut saya jika tidak ada saling mengontrol akan berakibat pada hal yang lebih serius. Itulah mengapa ungkapan ini saya tulis dalam sebuah artikel  agar kita bisa membawa diri karena banyak juga orang yang tidak mampu mengontrol emosinya apalagi jika sudah kalah berdebat bisa  mengumpat, mencaci sekehendak hatinya.

Dari fakta tersebut belakangan saya juga harus ekstra hati hati, mengontrol emosi dan hawa nafsu jangan sampai bahkan meningkatkan empathy untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, teman sekerja, bahkan saat berada didunia maya. Silent reader adalah pilihan saya. Pilihan hanya mendengar dan seakan mengiyakan apa yang diungkapkan orang lain walaupun beberapa diantaranya ada juga yang tidak cocok dengan logika saya.

Menjelang pesta demokrasi tahun 2019, kebencian sepertinya tetap ku nikmati dalam keseharian hidup saya karena itu sebagi sebuah konsekwensi. Namun semakin hari bagi saya semakin biasa dan lumrah. Jika ada yang tanya apa pilihan politik saya, tetap saya jawab saya memilih yang mereka yang tetap menjaga kedamaian dan kesejukan sampai saatnya nanti siapa orangnya hanya Tuhan  dan saya yang tahu.

Demikian cerita saya, apa cerita Anda hari ini ?
Bantu Blogger Berkreasi : Cukup dengan baca artikel, ambil info manfaatnya dan jangan diduplikasi dengan mencopy paste artikel ke blog lain. Jika sobat menginginkan artikel dari saya, silahkan menghubungi melalui contact.
Buka Komentar