2019, Pelatihan Kurikulum 2013 Bagi Guru Berbasis Zonasi


Pelatihan guru merupakan salah satu elemen penting sebagai tugas pemerintah dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas guru. Selain itu pelatihan juga menjadi sarana sosialisasi program pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.Pelatihan Guru dari tahun ketahun terus mengalami penyesuaian sesuai dengan bentuk emplementasi kebijakan yang dibuat pemerintah. Penyesuaiannya berdasarkan efektifitas dan efisiensi sehingga selain bisa menjangkau lebih banyak guru, juga pesan yang akan disampaikan bisa 100% diterima dan dilaksanakan.

Perjalanan panjang revisi kurikulum 2013 saat ini tampaknya menjadi fokus pemerintah dalam membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Sejak gaungkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2013, Kurikulum 2013 terus mengalami perbaikan. bahkan sempat mengalami perubahan dengan nama kurikulum nasional. Namun ternyata pemerintah menyadari bahwa yang terpenting dari kurikulum bukan nama , namun kontennya. Perbaikan perbaikan konten kurikulum terus dilakukan seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Ditahun 2018, pemerintah menargetkan pelatihan bagi guru untuk pemahaman kurikulim 2013 fokus pada pengembangan kapasitas pembelajaran di kelas. Pelatihan akan dilakukan dengan berbasis sistem zonasi.

Kapasitas pembelajaran terpusat pada empat kompetensi di abad ke-21 yaitu berfikir kritis dan mampu mencari jalan keluar permasalahan, inovasi dan kreatifitas, komunikasi yang baik dan kemampuan berjejaring dan berkolaborasi, " kata direktur guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano.

Ia mengatakan, inti dari kurikulum 2013 adalah keaktifan siswa dalam belajar. Dari segi materi akademis hampir serupa dengan kurikulum sebelumnya. Namun, guru yang dulu dianggap sebagai pusat pengetahuan kini bertindak sebagai fasilitator yang harus mengembangkan kreatifitas siswa.

Menurut Supriano, pelatihan guru mengenai pemahaman kurikulum 2013 sebelumnya dinilai belum seefektif target pemerintah. Metode pelatihan umumnya masih terpusat yaitu dilakukan di Jakarta atau di ibukota provinsi dan mengundang perwakilan para guru didaerah.


Pada 2019 pola pelatihan akan berbasis zonasi. Dalam  hal ini MGMP, KKG dan Majelis kepala sekolah menjadi ujung tombak. Mereka yang bertugas merancang pelatihan berdasarkan permasalahan nyata yang terjadi di zona mereka.

Berdasarkan data Kemendikdud saat ini ada 1.985 zona sekolah. Kemarin ada rapat Kemendikbud dengan Dinas dinas Pendidikan terkait zonasi. " Ada kemungkinan penambahan zonasi untuk memastikan setiap anak mendapatkan sekolah dan pemerataan mutu guru bisa berkesinambungan, " ujar Supriano.

Secara terpisah, sekretasis MGMP Provinsi Banten Nurbadriyah mengatakan perlu perombakan total dalam sistem pelatihan guru. Selama ini pelatihan berdasarkan tekstual. Guru diberi materi tertulis kemudian diminta untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),

" Ternyata, RPP tersebut tidak dilaksanakan ketika guru tersebut kembali kesekolah tempat ia mengajar. Bahkan tidak semua guru membagi hasil pelatihannya dengan rekan rekan di sekolah, " ujarnya.

Terkait penyusunan RPP, Wakil Kepala Sekolah Bidang kurikulum SMPN 35 Bekasi Mujahidin mengatakan, " Masih banyak guru yang belum menyiapkan perencanaan pembelajaran dengan baik. Belum membuat sendiri RPP-nya, Kelemahan kami disitu." Demikian seperti yang dimuat dalam harian Kompas edisi 15 September 2018 lalu.

Semoga berbagai kekurangan kekurangan pada pelatihan kurikulum sebelumnya bisa teratasi dengan sistem zonasi ini. Kita tahu bahwa jangkauan wilayah indonesia yang sangat luas perlu diatasi dengan sistem zona yang memetakan wilayah lebih merata dan menjangkau semua guru di pelosok negeri Indonesia tercinta ini.

Silahkan berkomentar dibawah tentang rencana pemerintah dalam pelatihan guru berbasis zonasi ini dikolom bawah.

Demikian tulisan artikel kali ini